Lembah Ramma, Delapan Naga dan Tankervillae

Gambar

Ramma memang tempat yang selalu menjadi candu untuk dinikmati panorama alamnya. Maka tak heran kalau sudah pernah ke lembah tersebut, pasti suatu saat akan ingin ke sana lagi, apa pun alasannya. Siapa sangka Kakanda Tischelam yang sudah 7 tahun lalu tak bertualang begitu sumringah mendengar kita akan melakukan perjalanan ke Lembah Ramma. Persiapan pun dilakukan segera untuk menyukseskan trip yang bertajuk “Eksplorasi 8 Naga” ini.

Oke… perjalanan kita mulai. Pukul 21.00 Wita, berangkat dari meeting poit di Cafe Baca Adhyaksa, kami (Enal, Tis, Nhana, Alan, Tomo, Ari, Lenka, dan Wirya) menarik gas kendaraan sepeda motor menuju Malino. Tepat di paruh malam kami pun tiba di kota yang berjuluk kota bunga itu, meskipun jarang kita temui benga-bungaan selain di pasar. Sebagai langkah aklimatisasi, kami pung ngopi dan menikmati jagung dan mie rebus di pinus. 40 menit waktu berlalu, kami pun melanjutkan perjalanan ke Lembanna. Di Lembanna kami hanya memarkir kendaraan dengan baik lalu bergegas menuju pos pendakian awal karena tak mau mengganggu lelap warga desa.

Pembagian posisi pun selesai, tepat pukul 01.00, kami memulai pendakian. Temaram cahaya bulan yang sedikit malu di balik daun pinus dan eucalyptus mengirigi tapak demi tapak yang kami jejaki. Di tengah jalan, kami hanya mampir sejenak untuk membuat kopi sebagai tameng peperangan antara pelupuk mata dengan malam yang semakin meninggi. Tak terasa Tallung di depan mata dan bulan pun meninggalkan kami tanpa jejak. Sejenak kami beristrirahat menikmati kilauan cahaya lampu kota yang tampak kelap-kelip, ada juga yang menghitung bintang yang memang tinggal satu-satu. Kami pun memutuskan untuk bergegas turun ke Ramma. Pukul 05.28, kami tiba pada titik camp yang dipilih, selanjutnya semua anggota tim bergegas untuk membangun tenda serta merapihkan barang-barang lalu beristirahat.

Belum puas raasanya terlelap tapi kami harus bangun. Tak dipungkiri, metabolisme tubuh yang cepat di tempat yang dingin membuat perut begitu cepat mendendangkan lagu kebangsaannya. Satu persatu dari kami pun mulau terbangun, jam di tangan juga sudah menunjukkan pukul 10.45 wita. Saatnya masak, masak dan masak. Menu makan siang yang nikmat, nasi putih, terong goreng balado campur selada air, bakso goreng, sup sawi putih yang juga ada baksonya, serta tempe goreng campur teri dan kacang. Yang gak kalah dahsyat adalah menu penutupnya, potongan buah apel, lengkeng segar, dan nata de coco yang dituang ke dalam larutan sari jeruk dan susu. Jagi ngiler sendiri saat nulis cerita ini, berikut menu-menu kami saat di Ramma.

Gambar

Sesuai rencana bahwa kami akan melakukan eksplorasi di sekitar lembah Ramma, persiapan pun segera dilakukan. Ouwhh… rupanya Ari mendapatkan kiriman pesan singkat untuk kembali ke Makassar maka tim pun kami bagi menjadi tiga. Tepat pukul 13.00 waktu setempat, kami mulai berpencar. Nhana bersama Ari menuju ke Tallung utnuk mencari sigal dan memastikan isi pesan tersebu. Saya, Alan, Lenka dan Tomo menuju arah yang pada sebuah batu yang tertancap di sebuah bukit, sebutlah “Batu Volcom”. Sementara Tis dan Wirya lebih memilih untuk tetap tinggal di camp.

Lenka yang bertindak sebagai leader menuntun kami sementara saya memasang string line sebagai pemandu aarah jika terjadi hal-hal yang tidak diduga serta memudahkan jalan pulang. Wow, ternyata begitu banyak spot-spot yang sangat indah di sekitar kita yang memang sangat jarang diantara kita meluangkan waktu mengeksplorasinya. Anak-anak sungai yang riak, telaga-telaga kecil yang tenang, sahutan ayam hutan dan manufer-manufer dua ekor elang menjadi kombinasi yang luar biasa. Kami pun memilih menanjaki sebuah bukit lalu menikmati kopi yang telah kami buat sebelumnya lalu disimpan dalam termos agar tetap hangat. Terbatasnya waktu memaksa kami memutuskan untuk tidak naik ke medan yang lebih berat. Kami pun memilih turun ke sungai yang membawa material dari arah puncak Bawakaraeng. Sekedar mencuci muka dan mengisi pundi-pundi air, kami tak bisa berlama-lama dan selalu tetap waspada karena kawasan ini masih rawan terjadi longsor. Handy talky pun bersuara, rupanya dari camp, kami pun segera kembali ke camp mengikuti jalur yang telah kami beri tanda dari tali plastik berwarna kuning. Tak lupa kami memungut ranting dan kayu kering untuk membuat perapian malam nanti.

Gambar

Gambar

Dalam perjalanan kembali ke camp, tak sengaja mata tertuju pada sosok yang aduhai sangat cantik, namanya Phaius tankervillae. Anggrek tanah ini mempunyai batang berupa umbi semu pendek yang beruas-ruas, tidak muncul dipermukaan tanah, kira-kira 2,5 – 6 cm panjangnya, dibungkus oleh upih daunnya. Umbi semu ini biasanya besar, tebal, merumpun. Daun tumbuh pada umbi semu, tulang daun besar, bentuk lanset, panjang mencapai 100 cm dan lebar 20 cm. Kelopak dan mahkota bunga P. tankervilleae berwarna putih pada bagian punggungnya dan berwarna coklat kemrahan dibagian dalamnya. Bibir bunga menggulung seprti terompet meingkari tugunya (column), bagian ujung mengeriting, berwarna kuning dibagian luar dan bagian dalam berwarna merah tua. Di alam, anggrek jenis ini sering ditemukan tumbuh di padang rumput dan juga di hutan yang terbuka, sehingga dapat dikatakan bahwa anggrek ini termasuk jenis yang menyukai cahaya terang. Yeah… foto saja sudah cukup, biarkan dia menikmati dunianya dan menghiasi dunia kita.

Gambar

Tepat pukul 4 sore, kami semua sudah berada di camp. Musyawarah pun kami lakukan karena  Ari diharuskan kembali ke Makassar. Salut kepada jiwa besar Lenka yang bersedia untuk menemani Ari untuk meninggalkan camp. Tak mau berlarut-larut dalam cerita, kami mulai bersih-bersih dan menyiapkan santap malam. Tak mau kalah dengan santap siang, maka nasi putih, nugget ayam, telur mata sapi yang dibumbui denga sambel tomat dan sayur kuah santan yang memanjakan lidah. Tak lupa kami menyiapkan perapian.

Selepas magrib dan melakukan ritual empat penjuru yang sering teman-teman JJS lakukan setiap trip yang menginap, kami pun mulaimenikmati lezatnya makanan yang telah kami sediakan dengan lahap.selanjutnya membersihkan peralatan masak dan makan lalu mengambil posisi di sekeliling perapian. Masing-masing pun mulai atraksi dengan racikan di gelasnya. Ada dengan kopi hitam, ada dengan jahe hangat, ada dengan teh, dan ada juga dengan susu. Tapi apapun racikan minumnya, hanyatnya kekeluargaan yang melebur dalam kebersamaan yang besar menjadikan segalanya lebih bernuansa. Tak banyak cerita yang selesai, padahal jam baru menunjukkan angka pukul 22.00. Tiba-tiba terjadi letupan dari perapian dan tak tanggung-tanggung melontarkan bara yang tentunya berbahaya. Flysheet dan jaket pun tak luput jadi sasaran letupan tersebut. Setelah diselidiki, ternyata letupan berasal dari pecahan batu yang panas karena kobaran api. Batu pembatas perapian yang digunakan oleh orang sebelum kami kemungkinan masih panas lalu disiram air untuk dipadamkan. Dengan kondisi tersebut, struktur batu menjadi mudah retak. Olehnya itu, ketika batu dingin dan kami memberi panas melalui pembakaran maka terjadilah letupan tersebut. Walaupun demikian, suatu keuntungan juga buat kami untuk bersegera masuk ke dalam ternda untuk beristirahat. Di luar masih ada Wirya yang mengambil gambar bintang-bintang di langit yang cerah pada purnama itu. Tak lama dia pin masuk ke tendanya.

Gambar

Gambar

Sahutan ayam hutan kian ramai, sudah pagi rupanya. Pukul 06.00 kami pun satu per satu keluar dari tenda untuk cuci muka dan menyelesaikan ibadah subuh yang sudah telat. Selanjutnya memanaskan air untuk ngopi dan ngeteh sambil menyiapkan racikan sarapan pagi. Tak mau kalah dengan menu sebelumnya, nasi putih, telur mata sapi yang dilunuri bumbu kacang, ikan sarden yang ditumis dengan tomat segar, abon sapi dan tempe campur teri goreng. Tak ada di antara kami yang tak berselera menyantapnya.

Tak terasa sudah pukul 09.00, kami pun mulai bonkar tenda lalu packing. Sampah dari kaleng sarden pun kami packing untuk dibawa pulang sementara sampah yang terbakar kami bakar sampai habis lalu padamkan perapian. Selanjutnya kami menuju kediaman Tata Mandong untuk pamitan.  Tepat pukul 11.00, kami mulai melakukan perjalanan untuk pulang. Kami hanya singgah di Tallung untuk berfoto-foto dan di sungai IV untuk mengisi pundi-pundi air. Dengan waktu tempuh 3 jam, kami pun tiba di air terjun Lembanna. Di sini kami mandi-mandi, shalat ashar dan menikmati kopi hangat. Selanjutnya kami menuju ke tempat penitipan motor dan pamitan di kediaman Tata Rasyid. Pukul 16.00 kami pun melanjutkan perjalanan menuju Makassar. Alhamdulillah semua perjalanan berlangsung dengan aman dan kami tida di check point terakhir pukul 18.05 dan masing-masing menuju ke kediamannya. Hal yang istimewah di trip kali ini bahwa semua anggota tim betul-betul sadar akan tanggung jawab masing-masing dan tim. Tak perlu ada intruksi, semua bekerja pada pos masing-masing sesuai kapasitasnya. Salut untuk 8 Naga !

Gambar

Gambar

“Hidup bukanlah suatu tujuan. Hidup adalah suatu perjalanan. Kita semua menemui tikungan dan belokan yang tak terduga, puncak gunung serta lembah. Semua yang terjadi pada kita membentuk diri kita sekarang. Dan dalam petualangan setiap hari, kita menemukan kualitas terbaik di dalam kita” (James Lee Valentine)

*Write by : @enal_18 @Jalan2Seru_Mks

Foto by : @enal_18, @wiieerrr, @tischelam, @Alexandria_Ari

All team : @enal_18, @tischelam, @Alexandria_Ari, @qheelan, @SawahKecil, @nastroboy_, @donald_nkha dan @wiieerrr.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Lembah Ramma, Delapan Naga dan Tankervillae”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s