Rammang-Rammang; Ikan kering Spesial dan Keluarga Seru

Gambar

Setelah melihat unduhan foto teman dan kebetulan belum ada yang mengusulkan proposal tripnya, saya antusias saja mengusulkan untuk #1nightCamp di Rammang-Rammang. Serentak teman-teman pun yang mengiyakan karena memang selama ini belum pernah ada aktivitas camping di sana dan tentunya masih ada yang belum pernah dan penasaran ingin menikmati pesona karst yang katanya terbesar kedua di dunia itu. Penghargaan kali ini diberikan kepada Saudara Pongsu Arya sebagai Trip Manager.

Selanjutnya dilakukan pengkajian informasi terkait lokasi camp, transportasi menuju lokasi camp, serta ceklok pun tak lupa dilakukan. Dengan pertimbangan transportasi yang memuat maksimal 15 penumpang, maka peserta trip pun dibatasi karena biaya transportasi terhitung per jalannya, bukan per kepala muatannya.

Sabtu 4 Mei 2013 siang, kami pun mulai berkumpul di dermaga danau Unhas sebagai meeting point. Karena ada beberapa peserta yang membatalkan diri untuk ikut sehingga kami memberi kesempatan untuk teman-teman yang lain untuk mengisi tempat tersebut. Hal ini juga tentunya akan berpengaruh terhadap pengeliaran tiap peserta yang terkait pada biaya transportasi. Dari pukul 13.30 wita yang kami jadwalkan, kami baru berangkat pukul 15.40 wita setelah semua peserta terkumpul. Saya, Yuyun, Nhana, Appy, Tomo, Ari, Farid, Yuli, Rizka, Ima, Iphink, Tri dan Metha dibawah komando Pong pun menuju Maros menggunakan kendaraan sepeda motor.

Di perjalanan, kami singgah di Pasar Mandai untuk membeli sayuran dan ikan kering serta berbagai jenis bumbu masak yang kami butuhkan saat camp. Tak lama memasuki simpangan ke Bosowa, salah satu motor peserta trouble, ban harus ditambal. Kami pun kembali menunggu sementara Pong lebih dahulu menuju ke dermaga untuk memastikan perahu yang akan kami gunakan stand by di tempat. Tak lupa kami meminjam dua buah galon air untuk keperluan air minum dan masak selama camping di sebuah toko kecil dekat masjid samping kantor PLN. Pukul 17.10 Wita pun kami tiba di dermaga.

Setelah motor titip di sebuah lahan yang sepertinya memang ditujukan sebagai tempat parkir bagi pengunjung, kami pun bergegas naik ke perahu motor yang kami pesan sebelumnya. Untuk biaya sewa perahu dengan kapasitas 15 orang, pergi dan pulang sebesar Rp. 150 K. Perahu fiber yang berukuran cukup besar ini harus melaju dengan lambat karena badan sungai yang dangkal dan sempit serta berkelok-kelok. Di sinilah keuntungannya. Perahu yang berjalan pelan memungkinkan kita untuk menikmati panorama kart yang berpadu dengan hutan mangrove yang begitu hijau. Menyaksikan dua ekor belibis yang berenang lalu terbang adalah hal yang mahal. Belum lagi pertunjukan kawanan codet (kelelawar kecil) yang jumlahnya ribuan, terbang membentuk formasi yang berubah-ubah tentunya bukan hal yang mudah didapatkan.

Gambar

Perahu pun merapat di sebuah dermaga kecil. Kami harus berjalan kaki lagi sejauh ± 800 m ke tempat camp yang telah disiapkan Dg. Baso (warga setempat sekaligus pemilik perahu). Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 18.00 wita, segeralah kami melaksanakan tugas masing-masing. Tenda pun mulai kami pasang. Appy selaku pengendali air menuju ke tempat sumber air bersama Dg. Baso untuk mengetahui posisi sumur dari tenda. Nhana dan beberapa teman  mencari kayu kering untuk keperluan perapian. Yuyun selaku kepala dapur juga mengumpulkan ransum yang sudah diinfokan sebelumnya. Selanjutnya kami melaksanakan shalat magrib secara berjamaah.

Setelah semuanya beres-beres, saatnya menyiapkan makan malam. Ada yang menanak nasi, ada yang menggoreng ikan, ada yang memotong-motong sayur untuk campuran mie sementara saya menyiapkan sambal sebagai cocolan untuk ikan kering goreng yang aromanya kian menggoda. Tat kala makanan sudah siap, kami pun makan bersama dalam nuansa yang bersahabat. Ikan kering yang begitu spesial dan keluarga yang seru. Tak ada susah yang telihat, yang ada hanyalah lahap yang entah makanannya begitu nikmat atau karena memang sudah lapar. J J J

Suasana semakin akrab dalam hangatnya kobaran api, kopi dan berbagai cerita. Binatang malam menjadi instrument musik yang menyempurnakan malam yang bertabur bintang. Sesaat terjadi hujan lokal sehingga kami bergegas memasang flysheet. Nyamuk pun seolah berpesta pora dengan kehadiran kami, beruntung kami tak lupa membawa lotion anti nyamuk. Rasa ngantuk kian menghampiri, satu per satu pun kami beranjak ke dalam tenda untuk terlelap. Ari dan Appy lebih memilih di luar tenda, di bawah naungan flysheet sekalian jaga malam kata mereka.

Gambar

Pagi pun tiba, suara burung bersahutan berirama menjadikan bagun tidur lebih bergairah. setelah semua menjalankan rutinitasnya, kami pun menyiapkan sarapan lalu makan bersama. Untuk mengisi keseruan, saya bersama Nhana, Pong, Tomo, Iphink dan Tri memilih untuk berjalan-jalan mengeksplor perbukitan karst. Sasaran kami adalah gua yang yang terlihat di depan posisi camp kami. Sementara yang lain melanjutkan tidurnya, ada juga yang memilih bersantai di atas hammock. Sengaja kami tidak mengikutkan peserta perempuan karena peralatan yang memang tidak menunjang, hanya dua utas webbing yang panjangnya masing-masing 4 meter. Kami pun berjalan menyusuri pematang sawah dan empang, berenang melewati sungai dan lalu menanjak di bebatuan. Setelah sampai di sekitar mulut gua, ternyata dindingnya begitu curam. Tangga dari bambu yang sudah terlihat melapuk dan seutas tali nilon sebesar telunjuk adalah jalur yang hendak kami lewati. Jalur tersebut adalah jalur yang dibuat oleh warga setempat sebagai aksek masuk ke dalam gua untuk mengambil guano (kotoran kelelawar) sebagai pupuk di sawah dan empang mereka. Hanya Tomo yang mampu menembus hingga lanyai dua lorong tersebut, sementara saya di lantai satu saja. Kami memutuskan untuk kembali ke camp.

GambarGambar

Setelah bersantai sejenak dan makan siang, kami pun memutuskan untuk pulang karena sebelumnya sudah janjian dengan Kak Rere yang menyusul dengan Faiz untuk bertemu di Karst depan. Berfoto-foto, menyaksikan petani yang sedang mencabut bibit dan menanam, tak pantas untuk dilewatkan begitu saja. Matahari pun mulai merendah dan kami pin pulang.

a3e

“Berjalanlah walau tertatih kawan, hadapi dunia dengan senyuman. Di sini ku ada untukmu,  genggam tangan kita bersenang-senang” –Naff.

All team

Gambar

By: @enal_18, @Jalan2Seru_Mks

Foto by: @enal_18, @SawahKecil, @Pongsuarya

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s