Kopi Air Hujan Kampung Huluk

Usai penanaman pohon dan telur penyu, bersama bapak Sharben, putra asli Selayar yang tau banyak tentang seluk beluk daerah ini, kami (saya, Rere dan Ugha) melanjutkan perjalanan untuk mengeksplor objek wisata Selayar. Kunjungan ke bekas istana Putabangun yaitu kerajaan pertama di Selayar, sekaligus menjadi makam dari  Rilajudie’ Tanridie (anak kedua Sawerigading, adik dari Lagaligo) serta makam suaminya Lalaki Sigayya.

Setelah berziarah di makam tersebut perjalanan kami lanjutkan menuju kampung Huluk. Tepat di ujung jalan sebuah bukit terpancang vila bapak Tanri Abeng, di sinilah beliau di lahirkan. Vila yang sebagian besar komposisinya menggunakan kayu kelapa ini nampak kurang terawat. Dari vila ini kita bisa menyaksikan sunrise dan sunset. Cuaca yang kurang bersahabat membuat kami menikmati Selayar dengan nuansa yang berbeda. Kabut dan hembusan angin begitu cepat mengantarkan hujan turun.

Dingin mulai begitu cepat menghampiri. Beruntung kami membawa kompor, nesting dan kopi. Tidak adanya persediaan air bersih mau tidak mau kami menadah air hujan untuk dimasak dan digunakan untuk menyeduh kopi. Meskipun diketahui air hujan itu masam, tapi itu juga tergantung pada kondisi geologis, kepadatan penduduk serta akitivitas penduduknya. Air hujan sendiri bisa langsung diminum selama tidak melewati bahan yang dapat mempengaruhi sifatnya seperti asbes dan zeng. Apalagi dengan kondisi kampung Huluk yang masih terlihat seperti hamparan hutan, bukan masalah untuk menjadikan air hujannya sebagai penyeduh kopi. Seperti halnya masyarakat di sebagian besar pulau-pulau kecik negeri ini yang banyak menampung air hujan untuk kebutuhan konsumsi mereka. Tuhan menciptakan segala sesuatunya untuk dimanfaatkan, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya dengan baik. Gambar

Gambar

Waktu berlalu 3 jam di vila tersebut. Setelah tidur siang sambil menikmati sejuknya udara Kampung Huluk, kami pun bergegas kembali ke kota Benteng untuk menyaksikan sunset di Pantai Palaza Marina.

By: @enal_18 @Jalan2Seru_Mks

Foto by : @enal_18 @rerealfareezy

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s