Cerita Kepala Dapur di Sanrobengi

Gambar

Well, akhirnya trip pulau pertama bersama sahabat terlaksana.  Sesuai dengan rapat pembahasan trip maka Pulau Sanrobenggi di Galesong Utara, Takalar jadi pilihan. Berbagai bentuk persiapan pun dilakukan, terutama menyangkut peralatan dan perbekalan. Trip yang dipimpin langsung oleh Kadiv. Pulau, Laut dan Perairan, kaka Wiwin, bertindak selaku Trip Manager. Sabtu 13 April 2013 di depan SMK 8 Makassar, pukul 07.15 Wita, rombongan naga Iccang, Nhana, Lenka, Tri, Pong, Allank, Jack, Uga, Bombom, Hadi, Fadly, Agus, Janu, Appy, Wahyu, Richi, Ari, Tomo, Yuyun dan saya berangkat ke dermaga Galesong dengan kendaraan sepeda motor.  Om Alan dan Qhad menyusul sore harinya karena masih ada urusan kantor. Sebenarnya estimasi perjalanan hanya 45 menit, namun karena ada kendaraan salah satu anggota tim yang trouble sehingga kami baru tiba pukul 10.00 wita. Perahu yang semestinya kami gunakan untuk menyebrang pun katanya telah di sewa oleh dinas pemerintahan setempat sehingga kami diangkut dengan perahu kecil yang hanya memuat 3 – 4 orang sekali menyebrang. Ada satu kejadian lucu dimana perahu yang memuat Janu harus putar balik ke dermaga, “muatannya berlebih” kata awaknya.  Hanya sekitar 10 menit kami pun menepi di Pulau Sanrobengi.

Gambar

Setelah semua anggota tim ada, kami pun meyusuri pulau yang hanya dihuni oleh 10 kepala keluarga ini untuk bersosialisasi sekaligus meminta izin untuk beraktivitas di pulau ini. Selanjutnya kami mencari tempat yang nyaman dan tidak mengganggu aktivitas penduduk untuk mendirikan camp. Tempat yang pas akhirnya kami dapatkan, beberapa orang mulai memasang tenda dan flysheet, beberapa juga yang menikmati teriknya matahari pulau dengan berfoto, ada juga yang membuka matras dan gantung hammock.

Perut pun mulai memainkan nadanya, saya kemudian meminta agar ransum dan peralatan masak dikumpulkan. Setelah membagi jumlah ransum dengan rencana makan maka mulailah Jack beraksi pada spesialisasinya, yakni memasak nasi. Ikan yang dibeli Tri (yang berulang tahun) pun masih dalam kantong plastik. Rupanya tak ada yang tahu bagaimana membersihkannya. Apa boleh buat, kali ini saya mesti turun tangan (lagi). Setelah insang dan isi perutnya saya keluarkan, giliran teman-teman yang lain membersihkannya. Beberapa teman juga sibuk mencari kayu bakar dan menyiapkan pembakaran untuk ikan. Setelah nasi, ikan bakar, sayur dan cobek-cobek siap, barulah kami makan bersama.

Gambar

Sehabis makan ada yang tidur di hammock, ada yang cukup di atas matras, ada yang menaikkan layangan, ada pula yang berdiskusi sambil mengunyah kuwaci dan menyeruput kopi sambil matahari merendah untuk bermain-main dengan air laut. Semua terlihat seru dengan aktivitasnya masing-masing. Apalagi saat Pong terjatuh karena kakinya yang saling menyilang saat berlari untuk menaikkan layangannya.

Akhirnya matahari mulai bersahabat, satu per satu pun dari kami mulai turun ke air. Entah melompat dan salto di dermaga, belajar berenang, memancing, snorkeling maupun sekedar berenang. Melihat “Lonely Tree” di laut tentu merupakan sesuatu yang sangat menarik untuk menjadi objek atau tempat berfoto. Beberapa dari kami pun bersepakat ke sana namun di paruh jalan kami disuruh kembali olek kakak TM, katanya dilarang oleh warga setempat. Mengabadikan moment bersama sunset adalah hal yang paling dinanti, satu persatu pun kami berganti gaya di depan kamera. Setelah di foto, saya pun bergegas membersihkan diri di sumur payau yang ada di tengah pulau dan segera mempersiapkan bahan makanan untuk santapan malam.

Gambar

Gambar

Gambar

Santap malam pun usai, beberapa sahabat sudah menyiapkan perapian dan air panas untuk menyeduh minuman. Satu per satu sahabat pun mengangkat matras dan meletakkannya mengelilingi api unggun. Canda gurau, curhat, musik pun mengalun bersama taburan bintang dan temaram bulan sabit. Hingga malam larut, ada yang kembali ke tenda untuk tidur, ada juga yang lebih memilih tidur di pinggir pantai beratapkan langit.

Fajar pagi mulai menyingsing, padi yang begitu tenag dengan ombak yang hanya seolah berbisik pada pasir pantai, binatang laut seperti kalomang dan ketam pun hilir mudik. Teman-teman pun mulai bangkit dari pembaringannya. Setelah mengelilingi pulau, kembali saya memulai aktivitas di dapur untuk menyiapkan sarapan dengan bantuan beberapa teman. Sementara sahabat yang lainnya melakukan kegiatan sosial dengan membersihkan moshallah dan bersih pantai.  Setelah semuanya kembali ke camp, kami pun sarapan bersama. Selanjutnya beramai-ramai menceburkan diri ke laut.

Gambar

Seperti kata Imanez (alm.) dalam lagunya “Anak pantai… suka damai, anak pantai… hidup santai…” begitulah keseruan kami di Sanrobengngi.

Gambar

By. @enal_18

Foto by @ichsanfirdaus05, @pongsuarya, @hellowin_, @qheelan, @SawahKecil, @enal_18

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s