Bontosomba; Riak Pung Bunga dan Bangau Putih yang Menawan

“Padang hijau di balik gunung yang tinggi. Berhiaskan pelangi setelah hujan pergi. Ku terdampar di tempat seindah ini. Seperti hati sedang, sedang jatuh cinta.” (BIP – Pelangi dan Matahari). Itulah bait lagu yang menggambarkan sedikit keindahan alam Bontosomba dan sekitarnya.

Bersyukur bisa menjadi bagian dari tim @jalan2Seru_Mks untuk eksplorasi Air Terjun Bontosomba. Mendapat tugas sebagai TM pun saya iyakan, mengingat trip ini bersifat khusus jadi pastilah orang-orang yang dipilih sebagai anggota tim sudah punya jam terbang yang jauh lebih banyak. Inventarisari kebutuhan alat dan logistik pun segera saya lakukan, termasuk meminta kesiapan teman-teman yang ada dalam daftar tim untuk mengonfirmasikan ulang mengenai kesiapannya. Akhirnya, dari sembilan orang, yang ikut hanya lima orang yaitu @rerealfareezy,  @Alexandria_Ari,  @hellowin_,  @boom2s  dan saya sendiri @enal_18.

Sesuai dengan kesepakatan, kami memilih meeting point di halte PLN Hertasning. Sabtu, tanggal 2 Maret 2013 sekitar pukul 10.00 wita, kami pun berangkat dengan menggunakan kendaran sepeda motor. Selepas keluar dari kota Makassar, mata pun kian dimanjakan oleh pemandangan hijau di kiri kanan jalan.  Sekitar 2 jam perjalanan kami tiba di Pucak beristirahat sejenak dan makan siang dan ngopi tentunya.

Perjalanan pun kami lanjutkan dengan melewati sebuah jembatan gatung yang panjangnya kira-kira setengah panjang lapangan bola dengan pagar pembatas yang sudah banyak yang berbuka serta papan kayu yang terlihat menua. Menegangkan tapi mesti kami lewati atau kembali ke Maccopa yang juga merupakan akses ke Bontosomba. Sekitar pukul 13.30 wita, kami memilih istirahat di sebuah sungai yang airnya begitu jernih sekaligus melaksanakan ibadah salat duhur lalu kembali melanjutkan perjalanan

Gambar

Gambar

Kondisi jalan sudah mulai kurang bersahabat, perkerasan dengan batu-batu besar, tanjakan dan turunan, debu dan becek adalah sahabat setia sepanjang perjalanan. Syukur kalau dapat bonus jalan yang sudah dibeton. Udara sejuk oleh rindang pohon dan lembah hijau yang meniupkan sepoi adalah anugerah yang tak terhingga. Mata pun kian terbelalak ketika melihat hamparan padi ladang nan hijau yang sedang berbunga  diantara tegakan-tegakan pohon pinus. Terbayang diri berada di negeri oranje sana.  Suguhan yang spesial buat saya yang telah lama tidak melihat hamparan padi yang ditanam di ladang.

Gambar

Gambar

Tak terasa, sekitar pukul 16.00 wita, sesuai dengan informasi GPS dari Kak Rere, tibalah kami di lokasi yang dituju. Bergegaslah kami mencari tempat yang memungkinkan untuk camp. Beruntunglah peserta tidak banyak jadi tak perlu tempat yang luas untuk mendirikan tenda. Selanjutnya masing-masing anggota tim bergegas sesuai dengan tugasnya.

Setelah persiapan camp beres, saya kembali melakukan observasi yang lebih detai di sekitaran camp. Tiba-tiba mata enggan berkedip tatkala tertuju pada dua malai dengan mahkota putih  yang bersembunyi di balik semak dan perdu. Spontan saja mengambil kamera dan mengabadikannya. Yang saya tau bahwa bunga itu termasuk keluarga anggrek dengan melihat ciri-ciri pada struktur kelaminnya dan hiasan bunganya tapi jenisnya saya masih kabur. Untungnya setelah saya posting di twitter, atas bantuan teman dari ASBINDO, Mba @RosanaHarahap  yang menginfokan genusnya untuk kemudian saya telusuri. Habenaria radiata yang dikenal dengan ”White Egret Orchid” adalah julukan yang sepadan dengan keistimewahan bunganya. Putih nan bersih serta tampak seperti bangau putih. Namun yang mengherankan, berdasarkan penelusuran dari “wikipedia.org”, silsilah angrek ini adalah endemik di wilayah bagian barat Henan China, Jepang dan Korea yang juga terancam populasinya di alam liar. Betapa bangga dan bahagianya bertemu dengan spesies anggrek tanah itu. Negeri kita memang kaya, saya masih sementara mencari informasi tentang distribusi penyebarannya.

Gambar

Gambar

Gambar

Kembali ke cerita, sekitar pukul 17.30, kami pun memilih makan lebih awal agar malamnya cukup diisi dengan ngemil dan ngopi meskipun pada akhirnya kami menyeduh mie saat nada dering yang bersumber dari perut terdengar di malam hari. Seperti trip-trip yang lain, malam diisi dengan canda gurau tentang perjalanan dan apa rencana esoknya. Malam semakin larut hingga terbawa ke alam tidur.  Pukul   23.30 wita, saya terjaga dan sadar kalau tertidur di luar tenda, rupanya Ari pun demikian. Masuklah kami ke dalam tenda untuk melanjutkan tidur meskipun sesak dengan aroma kentut  teman setenda.

Pagi pun menyambut, bersegeralah kami membuat sarapan sambil mendiskusikan ulang rencana sebelumnya. Setelah sarapan kami langsung packing dan menuju air terjun Pung Bunga seperti yang disebutkan warga setempat. Air terjun dua tingkat yang ketinggiannya lebih 30 m sangat mempesona dan sayang jika dilewatkan begitu saja kesegaran airnya. Nyeburrrrrr…. Tak terasa waktu berjalan, hujan mulai rintik, kami pun bergegas naik dan mencari tempat untuk berteduh. Setelah hujan redah, kami pun memilih untuk pulang mengingat perjalanan yang “smekwek” untuk dilalui. Yeahhh… tak cukup waktu 2 hari untuk menikmati dan mengeksplor lebih banyak tentang keindahan dan potensinya.

Gambar

Gambar

Tim Eksplorasi Air Terjun Pung Bunga, Bontosomba

Gambar

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s