Berburu Emas di Puncak Bawakaraeng

Saat pendakian pertama ke puncak  Gunung Bawakaraeng, masih terlintas terikan lantang yang terucap dari bibirku ketika di tengak jalur menuju ke pos-9 “Not twice agaiiiinnn….” Tapi entah mengapa sepulang libur lebaran haji, saya begitu antusias tatkala mendapat ajakan dari teman untuk ke puncak itu lagi. Kerinduan akan harmoni yang hadir saat api unggun mulai dikobarkan. Kerinduan akan sejuknya udara pagi nan berselimutkan kabut.  “Owwkehh….!!! saya ikut”, tegasku. Selanjutnya kami menyipakan perlengkapan dan perbekalan yang dibutuhkan selama pendakian.

Esok harinya, sekira pukul 17.00 WITA, kami menundukkan kepala sejenak untuk berdoa kiranya diberi kemudahan saat melakukan perjalanan nantinya.  Saya dan empat orang teman berjalan menuju ke jalur pete-pete sambil mendengar sahutan teman-teman yang lainnya “Hati-hati di jalan kawan…” “Ditunggu cerita serunya”. Selanjutnya kami menaiki pete-pete dengan kode 07 menuju pemberhentian di depan kantor Telkom dengan biaya per orangnya Rp. 3000,-. Kami lanjut menumpangi pete-pete merah menuju terminal Sunggu Minasa dengan biaya yang sama.

Dengan modal yang pas-pasan, kami pun sepakat untuk mencari tumpangan gratis. Tak mudah juga untuk mencari tumpangan yang tak berbayar, sehingga untuk mengatasi rasa jenuh menunggu kami pun memilih untuk berjalan kaki  dan serentak mengangkat jempol tatkala ada kendaraan yang melintas.

Betapa hati senang saat mendapatkan tumpangan, namun tak cukup dengan satu kali tumpangan saja kami sampai di tujuan. Perlu berkali-kali karena disesuaikan dengan tujuan kendaraan yang memberi tumpangan. Tercatat lima kali kami berganti kendaraan untuk sampai di persimpangan Lembanna. Wooww, lama namun mengasyikkan karena tak habis tawa oleh canda yang selalu ada.

Gambar
Suasana menanti tumpangan dan saat berada di atas truk pemuat pasir.

Pukul 02.30 malam waktu setempat, kami tiba di Lembanna. Rasanya kurang sopan untuk membangunkan Tata’ maka kami memutuskan untuk mendirikan tenda di hutan pinus yang berbatasan dengan kebun warga. Hal ini kami lakukan untuk mengaklimatisasi suhu tubuh dengan suhu lingkungan yang dingin. Kami pun menyalakan api unggun sambil berdiskusi tentang rencana perjalanan esok harinya.  Selang beberapa waktu, rasa ngantuk tak tertahankan, kami pun memilih masuk ke tenda untuk beristirahat agar tetap fit saat pendakian.

Baru sebentar mata terpejam, merdu suara burung telah memanggil seolah mengajak untuk bernyanyi bersama. Lampu angka di pergelangan tangan menunjukkan pukul 06.00, segeralah saya menunaikan kewajiban dua rakaat lalu kembali melanjutkan tidur.

Pelupuk mata masih terasa berat harus diakhiri karena salah seorang teman berteriak akibat digigit serangga, maklum truk terakhir yang kami tumpangi muatannya adalah pupuk kandang “xixixixiiii…”. Tapi itu tak masalah, anggap saja alarm alami. Selanjutnya kami pun berkemas-kemas. Dua orang yang turun ke kampung untuk melapor di Tata’, dua orang lagi re-packing perlengkapan camping. Sementara saya mengambil alih untuk membuat sarapan sesuai dengan pembagian tugas semalam.

Gambar
Site camp dan papan pengingat untuk tetap memperhatikan kelangsungan ekosistem.

Pendakian pun dimulai, teguhkan niat, bulatkan tekad, tanamkan doa, keselamatan yang utama dan puncak adalah bonus. Setelah berdoa bersama, kaki pun mulai langkah demi langkah menapak setapak yang berdebu, berlumpur, berbatu, terjal maupun landai. Tak terelakkan keringat bercucuran membasahi tubuh dan kaos yang melekat di badan.

Pos 1, pos 2, pos 3, dan pos 4 terlewati dengan napas yang tersisa di hari yang sudah meninggi. Perut pun mulai memainkan musik dengan keroncong. Langkah kian pelan dan kaki terasa berat untuk melangkah. Kami memutuskan untuk beristirahat di pos 5. Di sini, kami makan siang dan meluruskan badan agar tubuh sedikit lebih rileks sebelum melanjutkan pendakian di lima pos selanjutnya. Suasana canda dan tawa harus selalu hadir guna menjaga semangat agar terus berkobar untuk mencapai puncak. Setelah semua anggota tim berkemas, perjalanan pun dilanjutkan.

Gambar
Suasana pendakian mengejar emas

Melewati pos 6, hingga sampai di pos 7, kami kembali beristirahat sejenak sembari menikmati pemandangan yang luas di atas tumpukan batu-batu besar. Sungguh pemandangan yang sangat langka dan sayang untuk dilewatkan meskipun tak dipungkiri bahwa rasa lelah, letih, lesu dan loyo sangat menggoda untuk terlelap.

Setelah istirahat dirasa cukup, kami pun melanjutkan perjalanan. Lebatnya hutan lumut dan semakin tipisnya oksigen bercampur dengan aroma mistik yang kian membayang menuntut konsentrasi yang lebih tinggi dalam melangkah. Matahari yang kian merendah serta bunyi serangga menjadi teman. Sapaan sesama pendaki yang saling mendahului semakin mengakrabkan suasana pada jalur pendakian, suguhan yang sangat jarang ditemui di kota.

Pos 8 terlewati dan tibalah kami di pos 9. Di sini kami membagi tugas, saya dan satu orang teman terus ke pos 10 untuk menyiapkan tempat camp sebelum malam sementara tiga teman yang lain menyiapkan makan malam di pos 9. Sengaja kami memasak di pos 9 karena kami mendapat info dari pendaki lain kalau sumber air di pos 10 kering karena memang sedang musim kemarau.

Tepat pukul 17.30 WITA, tim saya tiba di pos 10. Tak membuang kesempatan, kami pun meletakkan carrier lalu berlomba ke puncak untuk menyaksikan golden sunset. Wow sungguh pemandangan yang sangat-sangat tak ternilai harganya, seakan berada di negeri awan dengan matahari terasa dekat. Angin berhembus begitu kencang menyusup di sela-sela anyaman jaket membuat kami tak bisa berlama-lama di luar. Kami pun segera turun dan membangun tenda. Tak lama tim yang lain pun menyusul di pos 10. Selanjutnya bersih-bersih dan mengganti pakaian basah agar lebih nyaman dan menghindari risiko kedinginan.

Gambar
Golden sunset di puncak para raja.

Malam pun menyambut, setelah salat magrib kami langsung menikmati makan malam dan melanjutkan cerita-cerita yang ujungnya tak tau di mana seolah serial sinetron yang tak jelas akhir episodenya hingga kami pun terelelap. Suara dengkur, suara igau dan binatang malam menjadi irama pengantar tidur malam itu.

Burung pun berkicau, suara dari tenda tetangga pun mulai ribut, ohh sudah pagi rupanya. Kami pun bergegas membasuh muka lalu keluar menuju puncak karena takut ketinggalan momen. Tak lupa membawa peralatan masak untuk membuat kopi di puncak. Sembari menikmati hangatnya kopi dengan suguhan morning glory yang sungguh luar biasa. Inilah emas yang kami kejar, emas yang tak ternilai harganya, emas yang selalu dirindukan oleh setiap pendaki, emas yang selalu menggugurkan kata “Not twice again”. “Suatu saat saya akan kembali lagi ke puncak Gunung Bawakaraeng”.

Gambar
Golden sunrise di atas puncak Bawakaraeng.
Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s