Katokkon; Si Hot dari Toraja

Cabai atau cabe, juga dikenal dengan sebutan lombok merupakan komoditi pertanian yang disukai karena rasanya yang pedas. Rasa khas cabe mampu meningkatkan selera makan, terkhusus bagi penggemar makanan pedas. Pedas pada cabe bersumber dari capsicin yang terkandung dalam buahnya. Kadar capsicin pun berbeda sesuai dengan jenis dan lingkungan tumbuhnya.

Cabe yang merupakan keluarga terong-terongan (Solanaceae) juga memiliki nama yang berbeda-beda di tiap daerah. Di kampung saya, Palopo misalnya, cabe dikenal dengan nama “Passe“, di Enrekang dengan mana “Laddang“. Sementara Makassar dan Toraja menyebutnya “Lada“.

Salah satu cabe yang terkenal di Sulawesi Selatan adalah cabe yang berasal dari dataran Tana Toraja yaitu Lada Katokkon (Capsicum annuum L. var. Sinensis). Bentuknya yang menyerupai paprika dengan ukuran yang lebih kecil. Buahnya memiliki kemiripan dengan jenis cabe Habanero yang berasal dari mexico. Di Toraja, katokkon di tanam di antara tegakan-tegakan pohon kopi atau pohon peneduh yang sengaja ditanam untuk menghindari terik yang berlebih.

Saya sendiri sebenarnya bukan pencinta makanan yang pedas tapi senang menanam berbagai jenis tumbuhan. Buah yang saya dapat dari teman sebanyak 3 buah langsung saya buka dan keluarkan bijinya kemudian menjemurnya hingga kering (2 hari penjemuran).

Selanjutnya, benih saya rendam di air hangat untuk mematahkan dormansi benih serta menyeleksi benih yang bernas dan berpotensi tumbuh. Oleh karena itu yang saya ambil adalah benih yang tenggelam selama perendaman. Sambil menunggu waktu perendaman selesai, saya menyiapkan persemaian dari talang.  Wadah itu saya isi dengan campuran tanah, kompos dan arang sekam dengan perbandingan volume yang sama. Media semai saya jenuhkan dengan air, menggunakan handsprayer.

Benih hasil rendaman saya letakkan pada alur-alur yang sengaja dibuat agar jarak antar benih teratur dengan jarak 2 x 2 cm.  Kotak semai dari talang tersebut saya bungkus dengan plastik hitam agar kondisi tetap gelap dan lembab.

Setelah 4-5 hari, kecambah mulai muncul. Pada saat terbentuknya 2 daun, saya kembali memindahkannya pada persemaian kedua agar bibit lebih leluasa unuk tumbuh. Persemaian kedua ini, saya memanfaatkan limbah gelas air mineral dengan media tanam yang sama. Hanya saja, tiap gelas cukup ditanami satu tanaman saja.

Setelah bibit membentuk 4 helai daun, bibit saya pindahkan ke tempat penanaman utama. Dalam praktik yang saya lakukan, saya memilih polibag karena kebetulan itu yang ada. Saya bisa saja memilih pot diameter 30 cm. Akan tetapi, polibag 30 x 40 cm yang di dalamnya diisi dengan tanah campur kompos (2:1) sudah cukup untuk menyokong pertumbuhan cabe.

Langkah selanjutnya tinggal meyiram secara rutin. Saya hanya memastikan kalau media tanam betul-betul selalu berada dalam kondisi yang tidak kering. Pememupukan dengan menggunakan Pupuk Organik Cair (POC) rutin saya beri setiap minggu baik lewat daun maupun akar. Tidak lupa saya mengamati ada tidaknya gangguan hama dan penyakit, terutama kutu putih yang seolah akrab dengan pertanaman cabe. Penanganan dini terhadap hama dan penyakit akan membuat tanaman kita tetap dalam kondisi prima.

Berikut beberapa yang sempat saya dokumentasikan:

GambarGambar

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

6 thoughts on “Katokkon; Si Hot dari Toraja”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s